Maqashid Syariah dan SDGs: Optimalisasi Wakaf Produktif di Indonesia

Oleh Tim WaCIDS, Dibuat tanggal 2026-07-17

Wakaf produktif merupakan salah satu instrumen ekonomi Islam yang strategis dan  memiliki potensi besar dalam memberdayakan ekonomi umat. Berbeda dengan wakaf tradisional yang cenderung bersifat konsumtif seperti pembangunan masjid atau madrasah, wakaf produktif berorientasi pada optimalisasi aset wakaf untuk menghasilkan manfaat berkelanjutan. Konsep ini memungkinkan aset wakaf,  seperti tanah dan bangunan, dikelola secara produktif untuk mendukung pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi, sehingga wakaf tidak hanya menjadi amal jariyah, tetapi juga instrumen pemberdayaan masyarakat.

 

Dalam beberapa dekade terakhir, pengelolaan wakaf produktif telah menunjukkan  perkembangan yang signifikan. Fenomena ini didukung oleh meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya optimalisasi aset wakaf untuk tujuan yang lebih luas. Berbagai negara Muslim, termasuk Indonesia, mulai menerapkan pengelolaan yang lebih profesional, modern, dan berbasis teknologi untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Digitalisasi wakaf juga membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi melalui wakaf tunai maupun proyek wakaf tertentu.

 

Perkembangan tersebut perlu diarahkan agar optimalisasi wakaf tetap sejalan dengan tujuan syariah dan kemaslahatan masyarakat. Dalam konteks ini, maqashid syariah menjadi landasan filosofis yang penting dalam pengelolaan wakaf produktif.

 

Secara teoritis, maqashid syariah merupakan tujuan hukum Islam untuk mewujudkan kemaslahatan manusia melalui perlindungan agama (hifzh al-din), jiwa (hifzh al-nafs), akal (hifzh al-'aql), keturunan (hifzh al-nasl), dan harta (hifzh al-mal). Al-Syatibi menempatkan maqashid sebagai kerangka dasar syariah yang menekankan dimensi maslahat berkelanjutan (Sucipto, 2018), sementara Ibn ‘Ashur memperluasnya dengan menekankan keadilan sosial dan pengembangan manusia dalam konteks individu maupun kolektif (Saputri & Ansori, 2024). Prinsip-prinsip tersebut memberikan panduan agar wakaf tidak hanya berorientasi pada manfaat ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan dan kesejahteraan sosial, sehingga wakaf produktif berbasis maqashid syariah mencerminkan nilai-nilai Islam yang holistik (Kusnan et al., 2022).

 

Maqashid syariah memiliki relevansi yang signifikan dalam pengelolaan wakaf  produktif. Prinsip-prinsip maqashid memberikan kerangka kerja yang memastikan bahwa pengelolaan aset wakaf tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga mendukung kesejahteraan masyarakat secara holistik.

  1. Hifzh al-Mal menjadi inti dalam pengelolaan wakaf produktif karena menekankan pentingnya menjaga dan mengembangkan aset wakaf agar tetap bernilai dan memberikan manfaat jangka panjang. 
  2. Hifzh al-Nafs diwujudkan melalui hasil pengelolaan wakaf yang digunakan untuk mendukung kebutuhan dasar masyarakat, seperti layanan kesehatan, pendidikan, dan bantuan pangan. 
  3. Hifzh al-Din tercermin dalam pelaksanaan pengelolaan yang sesuai dengan prinsip syariah, sehingga aset wakaf tetap menjadi sarana ibadah dan mendukung penyebaran nilai-nilai Islam. 
  4. Hifzh al-‘Aql mendukung pengelolaan wakaf untuk membiayai pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia. 
  5. Hifzh al-Nasl menjadi landasan dalam memastikan manfaat wakaf produktif dirasakan oleh generasi mendatang melalui pembangunan yang berkelanjutan (Rahman & Widiastuti, 2020).

 

Melalui pendekatan maqashid syariah, wakaf produktif tidak hanya memberikan manfaat ekonomi langsung, tetapi juga menjadi sarana transformasi sosial yang mendukung keberlanjutan pembangunan umat. Dalam pengelolaannya, prinsip transparansi, efisiensi, dan keberlanjutan menjadi penting untuk memastikan aset wakaf dikelola secara optimal dan menghasilkan manfaat jangka panjang bagi umat.

Integrasi maqashid syariah dan Sustainable Development Goals (SDGs) dalam pengelolaan wakaf produktif memiliki potensi besar dalam mendukung pembangunan ekonomi Islam yang berkelanjutan di Indonesia. Perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta dalam maqashid syariah sejalan dengan SDGs yang menekankan penghapusan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan, pendidikan berkualitas, serta pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan demikian, wakaf produktif dapat menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai spiritual Islam dengan agenda pembangunan global secara harmonis dan berkelanjutan.

 

Oleh: Hasbi dan Faizatu Almas Hadyantari.

Kutip artikel ini: Hasbi & Hadyantari, F.A. 2026. Maqashid Syariah dan SDGs: Optimalisasi Wakaf Produktif di Indonesia. https://wacids.org/detailopini/89/2026-07-17/Maqashid-Syariah-dan-SDGs%3A-Optimalisasi-Wakaf-Produktif-di-Indonesia

 

Referensi:

Kusnan, Muhammad Damar Hulan Bin Osman, and Khalilurrahman, “Maqashid Al Shariah in Economic Development: Theoretical Review of Muhammad Umer Chapra’s Thoughts,” Millah: Journal of Religious Studies 21, no. 2 (2022): 583–612, https://doi.org/10.20885/millah.vol21.iss2.art10. 

Saputri, L. I., & Ansori, M. (2024). Implementasi Indeks Maqashid Syariah Dalam Penilaian Kinerja Operasional Di Bmt Al-Hikmah Semesta. Jurnal Masharif AlSyariah: Jurnal  Ekonomi Dan  Perbankan Syariah, 9. https://doi.org/10.30651/jms.v9i3.23064

Rahman, Inayah, and Tika Widiastuti. “Model Pengelolaan Wakaf Produktif Sektor Pertanian Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani (Studi Kasus Pimpinan Ranting Muhammadiyah Penatarsewu Sidoarjo).” Jurnal Ekonomi Syariah Teori Dan Terapan 7, no. 3 (2020): 486. https://doi.org/10.20473/vol7iss20203pp486-498.

Sucipto. (2018). Strategi Berbasis Maqashid Syariah Dalam Meningkatkan daya Saing Lembaga Keuangan Mikro Syariah Di Jambi. Iltizam Journal of Shariah Economic Research, 2. https://doi.org/10.30631/iltizam.v2i1.107